Siang akhir januari ini saya makan di warung deket kosan yang biasa saya sebut ‘warung abu-abu’. Menu spesial yang biasa saya pesan adalah gepuk dobel. Hmmm… (itupun kalo lagi ada duit lebih…hue!). Dengan sedikit kaget, sontak saya ambil koran kompas yang sering ditaruh di meja (maklum udah kebiasaan konsumsi koran digital..hehe!)
Sebuah artikel pada halaman pertama yang membuat mata saya langsung tertuju, yakni tentang “Hancurnya Peradaban Sungai”…hmmm…Peradaban Sungai?? Looks like a better news than about distro today! Hehe!
Di dalamnya dibahas mengenai bagaimana ekologi pada sebuah peradaban terbesar zaman prasejarah di
Dahulunya ciliwung merupakan salah satu sungai yang menghidupi banyak masyarakat kita yang memang pada waktu itu hidup di pinggiran sungai, sehingga pada akhirnya dinamakan zaman peradaban sungai… Hmmpffff…
Berarti seharusnya gak cuma ada lagu “Nenek moyangku orang pelaut”, harusnya juga ada lagu ”Nenek moyangku orang sungai…” (hehehe..maksa bgt ya?!)
Gile! Kali ciliwung yang jorok itu ternyata dulu merupakan sumber kehidupan negara kita!!!
"Sekedar ilustrasi tentang ciliwung yang menyedihkan" oleh M.Emil Salim
Sekarang kali ciliwung menjadi jalur wisata bagi kotoran kita. Hmmm… ironis! Menurut pakar, air ciliwung bahkan tidak layak untuk menyiram tanaman sekalipun, namun pada kenyataannya masih banyak penduduk pinggiran yang HIDUP dari air ciliwung…
Produksi tanpa batas yang konon katanya adalah buah kapitalisme memaksa alam kita benar-benar terkuras... Akibatnya kotoran kitapun secara berlebihan tercecer di ciliwung. Sampah plastik, air limbah rumah tangga, sterofoam dll. Akhirnya berbahagialah kita, karena bermunculan berbagai penyakit baru untuk kita… Memang ini merupakan berita lama, namun dampaknya selalu bermunculan hingga sekarang!
Well, ini bukan kutukan! Ini sangat logis! Mari kita perbaiki kesalahan ini!

