30.1.09

A Better News Than About Distro Today!

Siang akhir januari ini saya makan di warung deket kosan yang biasa saya sebut ‘warung abu-abu’. Menu spesial yang biasa saya pesan adalah gepuk dobel. Hmmm… (itupun kalo lagi ada duit lebih…hue!). Dengan sedikit kaget, sontak saya ambil koran kompas yang sering ditaruh di meja (maklum udah kebiasaan konsumsi koran digital..hehe!)


Sebuah artikel pada halaman pertama yang membuat mata saya langsung tertuju, yakni tentang “Hancurnya Peradaban Sungai”…hmmm…Peradaban Sungai?? Looks like a better news than about distro today! Hehe!


Di dalamnya dibahas mengenai bagaimana ekologi pada sebuah peradaban terbesar zaman prasejarah di Indonesia yakni masyarakat Sunda. Disebut bahwa masyarakat Sunda merupakan komunal yang saling menghidupi antara alam dan manusia. Artikel ini ternyata lebih fokus pada bahasan kali Ciliwung. Disinggung bahwa Ciliwung (dalam basa sunda) berarti “Ci” atau air dan “liliweung” yang artinya tidak menentu, karena pada kenyataanya sungai liliweung ini tidak menentu, kadang meluap kadang mengalir dengan sopan…halah!!!


Dahulunya ciliwung merupakan salah satu sungai yang menghidupi banyak masyarakat kita yang memang pada waktu itu hidup di pinggiran sungai, sehingga pada akhirnya dinamakan zaman peradaban sungai… Hmmpffff…

Berarti seharusnya gak cuma ada lagu “Nenek moyangku orang pelaut”, harusnya juga ada lagu ”Nenek moyangku orang sungai…” (hehehe..maksa bgt ya?!)


Gile! Kali ciliwung yang jorok itu ternyata dulu merupakan sumber kehidupan negara kita!!!


"Sekedar ilustrasi tentang ciliwung yang menyedihkan" oleh M.Emil Salim


Sekarang kali ciliwung menjadi jalur wisata bagi kotoran kita. Hmmm… ironis! Menurut pakar, air ciliwung bahkan tidak layak untuk menyiram tanaman sekalipun, namun pada kenyataannya masih banyak penduduk pinggiran yang HIDUP dari air ciliwung…


Produksi tanpa batas yang konon katanya adalah buah kapitalisme memaksa alam kita benar-benar terkuras... Akibatnya kotoran kitapun secara berlebihan tercecer di ciliwung. Sampah plastik, air limbah rumah tangga, sterofoam dll. Akhirnya berbahagialah kita, karena bermunculan berbagai penyakit baru untuk kita… Memang ini merupakan berita lama, namun dampaknya selalu bermunculan hingga sekarang!


Well, ini bukan kutukan! Ini sangat logis! Mari kita perbaiki kesalahan ini!

7.9.08

Mana Tahan / Mana Tahaaaaaaaan??

video
Cuplikan film Warkop Prambors berjudul : "Mana Tahan"

Indro : "Eh..."
Dono : "Apa?!"
Indro : "Saya pikir-pikir, kita ini apa nggak salah masuk ya??"
Dono : "Emangnya kenapa??"
Indro : "Rumahnya mewah... Makanannya enak... Tapi bayar kosnya cuma 50 ribu... Apa tante (pemilik kos) gak rugi ya??"
Dono : "Jangan2 tante yg punya rumah ini, bandar arisan kol?!"
Indro : "Waduh...bisa-bisa kita dijadiin pore!"

Adegan diatas udah cukup menggambarkan kondisi kos2an jaman dulu. Sangat murah dibandingin sama jaman sekarang... Mungkin si tante-nya yang salah ngasih harga, atau emang tantenya yang sangat baik ampe ngasi harga murah kepada 2mahasiswa rantauan tsb. Atau mungkin memang si tantenya yang juragan kol..."Wadduh!"

Tapi bukan harga kos murahnya yg pengen saya masalahin... Look at the video...
Bandingin sama sekarang... Sangat jarang saya temui kamar kos mahasiswa yang kaya kamar Dono dan Indro. Kalau di meja belajar Dono hanya ada lampu belajar dan tumpukan buku, lihatlah sekarang ditukar dengan komputer dan televisi. Bahkan gak sedikit yang memiliki kulkas pribadi, atau perkakas teknologi lainnya yang memakan banyak tenaga listrik.

Kalo jaman Warkop dulu, tiap 1anak kos tanpa memiliki gadget, bandingkan dengan sekarang...
Kita patut malu sama Dono, Kasino, Indro karena prestasi kita sangat buruk. Sebuah perbandingan : Misalkan sebuah kosan memiliki 10 kamar dan tiap kamar memiliki 3gadget, artinya dalam sebuah kos-kosan terdapat 30gadget. Jaman Warkop, 1TV dinikmati oleh seluruh isi kosan, sedangkan jaman sekarang 1anak memiliki 1TV. Watt/tenaga listrik yang dikeluarkan pada tiap harinya...ckckck! Sebuah pemborosan global! Mana Tahan....

Kita ga bisa serta merta nyalahin peradaban teknologi modern; kita memperoleh banyak informasi dan membuka cakrawala berpikir melalui teknologi modern. Namun ke-tidak harmonisan terjadi disini, kemerosotan sosial terjadi di sini. Kita dibentuk jadi manusia-manusia yang individual, membentuk jurang dengan lingkungan sosial.

Masyarakat sebagai rayap dari balok peradaban, juga tidak bisa disebut sebagai terdakwa dalam kasus pemborosan ini. Mereka hanyalah korban dari produktivitas media yang sama-sama kita ketahui merupakan karya dari para desainer. Jadi, selain para kapitalis (dalam hal ini sebagai pendosa terbesar abad ini), desainer juga memiliki tanggung jawab maha besar terhadap masyarakat.

Desainer?????? Mana Tahaaaaaan??